Anak itu aneh hari ini. Tidak seperti biasanya. Biasanya ia selalu membuat kami tertawa. Tetapi, hari ini ia beda. Seperti ada beban di matanya. Sebenarnya aku ingin menanyakannya. Tapi, aku takut di cap orang yang selalu ikut campur masalah orang lain. Maka, aku tidak berbicara padanya.
Hari ini pun ia sendirian, tidak ada teman. Mungkin anak lain berpikiran seperti aku, takut di cap ikut campur. Aku mengawasi dia dari tempat dudukku yang cukup jauh darinya. Ia tampak sedih sekali. Air matanya pun jatuh mengalir di pipinya yang mulus. Membuatku tak tega untuk membiarkannya sendirian.
Akhirnya, aku pun mendekatinya dan berkata "Hei, ada masalah?" tanyaku sabar. Dia hanya diam dan menoleh ke arahku. Tersenyum pun tidak. "Kalau kau ada masalah, bilang saja padaku. Kau tak seperti biasanya Ris." kataku sambil berusaha tersenyum padanya dan mengelus sabar pundaknya.
Tapi reaksinya sama saja. Tetap diam. Akhirnya aku berkata "Jika kau ada masalah. Cobalah untuk tetap tersenyum Ris. Jangan menyerah ya. Aku tinggal dulu." kataku sambil tersenyum. Aku pun pergi meninggalkan Riska dan pergi ke tempat dudukku dan mulai berbicara ke temanku yang lain.
...................................................................................................................................................................
Jam pelajaran sekolahku berakhir. Aku segera pulang ke rumah menaiki mobil dijemput mama. Sampai dirumah, aku mengecek SMS yang baru saja masuk. Ternyata Riska SMS aku. Isinya adalah "Din, ke rumahku yukk. Aku lagi masak besar-besaran nih^^. Oh iya, maafkan aku tadi. Aku lagi ngambek ada masalah." Aku tersenyum melihat SMS itu. Rupanya sedang ngambek toh. Pikirku.
Lalu kujawab "Iya Ris^^ gakpapa deh. Aku kerumahmu yaa sekarang." Tak lama ia langsung menjawab "Iya Din. Sipp deh ^^."
Setelah mandi dan bersiap. Aku langsung berangkat ke rumah Riska yang tak jauh dari rumahku. Hanya beberapa blok. Aku mengambil sepeda biruku. Setelah berpamitan, aku pun berangkat ke rumah Riska. Sambil mengayuh sepeda, aku membayangkan betapa enaknya masakan Riska. Disekolah, Riska dikenal sebagai tukang masak paling enak. Bekalnya selalu abis disikat temen-teman di sekolah.
Sesampai di seberang rumah Riska yang berpagar cat putih itu, Aku melihat banyak orang yang sedang berkumpul di rumah Riska. Aku curiga. Ahhh, mungkin Riska ingin membagi-bagikan masakannya kepada orang lain selain aku. Pikirku berusaha positif.
Aku pun memakirkan sepedaku di depan rumah Riska. Lalu melangkah masuk dan terkejut setengah mati melihat Riska yang tergolek tak bergerak di sofa rumahnya. Banyak orang yang mengerebunginya. Tante Fani, mama Riska menangis keras di sebelah jenasah Riska yang sedang memakai baju seragam sekolahnya yang berdarah-darah. Rambutnya juga terdapat darah kering yang menempel.
Aku hanya terpaku melihatnya. Air mataku mengalir di pipiku. Aku segera lari kearahnya dan memeluknya erat. Aku menangis telah kehilangan teman yang paling gokil, setia dan baik. Setelah beberapa lama menangis, tanganku disenggol pelan oleh bapak-bapak yang tersenyum. Ia berkata "Nak, Jenasah Riska dimandikan dulu ya. Jangan menangis. Nanti Riska tambah sedih disana." mendengar itu aku langsung menghapus air mataku dan tersenyum lalu minggir untuk memberikan jalan supaya jenasah Riska dapat dimandikan.
.................................................................................................................................................................
Setelah pemakaman...............
Berdasarkan kata Ibunya Riska, Riska kecelakaan saat pulang sekolah. Saat menyebrang Ia tertabrak bus yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Dan bingungnya, sampai sekarang aku tidak tahu siapa yang mengirim SMS itu. Padahal kata Ibu Riska, Riska tertabrak sebelum jam ia mengirim SMS nya............