Minggu, 23 Agustus 2015

Pesan Seorang Teman

     Anak itu aneh hari ini. Tidak seperti biasanya. Biasanya ia selalu membuat kami tertawa. Tetapi, hari ini ia beda. Seperti ada beban di matanya. Sebenarnya aku ingin menanyakannya. Tapi, aku takut di cap orang yang selalu ikut campur masalah orang lain. Maka, aku tidak berbicara padanya. 
    
     Hari ini pun ia sendirian, tidak ada teman. Mungkin anak lain berpikiran seperti aku, takut di cap ikut campur. Aku mengawasi dia dari tempat dudukku yang cukup jauh darinya. Ia tampak sedih sekali. Air matanya pun jatuh mengalir di pipinya yang mulus. Membuatku tak tega untuk membiarkannya sendirian. 
     
     Akhirnya, aku pun mendekatinya dan berkata "Hei, ada masalah?" tanyaku sabar. Dia hanya diam dan menoleh ke arahku. Tersenyum pun tidak. "Kalau kau ada masalah, bilang saja padaku. Kau tak seperti biasanya Ris." kataku sambil berusaha tersenyum padanya dan mengelus sabar pundaknya. 

     Tapi reaksinya sama saja. Tetap diam. Akhirnya aku berkata "Jika kau ada masalah. Cobalah untuk tetap tersenyum Ris. Jangan menyerah ya. Aku tinggal dulu." kataku sambil tersenyum. Aku pun pergi meninggalkan Riska dan pergi ke tempat dudukku dan mulai berbicara ke temanku yang lain.

...................................................................................................................................................................

      Jam pelajaran sekolahku berakhir. Aku segera pulang ke rumah menaiki mobil dijemput mama. Sampai dirumah, aku mengecek SMS yang baru saja masuk. Ternyata Riska SMS aku. Isinya adalah "Din, ke rumahku yukk. Aku lagi masak besar-besaran nih^^. Oh iya, maafkan aku tadi. Aku lagi ngambek ada masalah." Aku tersenyum melihat SMS itu. Rupanya sedang ngambek toh. Pikirku. 
Lalu kujawab "Iya Ris^^ gakpapa deh. Aku kerumahmu yaa sekarang." Tak lama ia langsung menjawab "Iya Din. Sipp deh ^^." 

     Setelah mandi dan bersiap. Aku langsung berangkat ke rumah Riska yang tak jauh dari rumahku. Hanya beberapa blok. Aku mengambil sepeda biruku. Setelah berpamitan, aku pun berangkat ke rumah Riska. Sambil mengayuh sepeda, aku membayangkan betapa enaknya masakan Riska. Disekolah, Riska dikenal sebagai tukang masak paling enak. Bekalnya selalu abis disikat temen-teman di sekolah. 

     Sesampai di seberang rumah Riska yang berpagar cat putih itu, Aku melihat banyak orang yang sedang berkumpul di rumah Riska. Aku curiga. Ahhh, mungkin Riska ingin membagi-bagikan masakannya kepada orang lain selain aku. Pikirku berusaha positif.

     Aku pun memakirkan sepedaku di depan rumah Riska. Lalu melangkah masuk dan terkejut setengah mati melihat Riska yang tergolek tak bergerak di sofa rumahnya. Banyak orang yang mengerebunginya. Tante Fani, mama Riska menangis keras di sebelah jenasah Riska yang sedang memakai baju seragam sekolahnya yang berdarah-darah. Rambutnya juga terdapat darah kering yang menempel. 

     Aku hanya terpaku melihatnya. Air mataku mengalir di pipiku. Aku segera lari kearahnya dan memeluknya erat. Aku menangis telah kehilangan teman yang paling gokil, setia dan baik. Setelah beberapa lama menangis, tanganku disenggol pelan oleh bapak-bapak yang tersenyum. Ia berkata "Nak, Jenasah Riska dimandikan dulu ya. Jangan menangis. Nanti Riska tambah sedih disana." mendengar itu aku langsung menghapus air mataku dan tersenyum lalu minggir untuk memberikan jalan supaya jenasah Riska dapat dimandikan.

.................................................................................................................................................................
Setelah pemakaman...............

Berdasarkan kata Ibunya Riska, Riska kecelakaan saat pulang sekolah. Saat menyebrang Ia tertabrak bus yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Dan bingungnya, sampai sekarang aku tidak tahu siapa yang mengirim SMS itu. Padahal kata Ibu Riska, Riska tertabrak sebelum jam ia mengirim SMS nya............

Rabu, 12 Agustus 2015

Promise?

     Hai, namaku Claudine Antoinette. Teman-temanku memanggilku dengan nama depanku yaitu Claudine. Aku anak tunggal yang dilahirkan oleh seorang wanita yang kuat dan tegas, kupanggil dengan sebutan mommy dan memunyai seseorang yang tegar, kuat dalam segala rintangan. Beliau adalah orang yang biasa kupanggil dengan sebutan Dady. 

     Dilahirkan pada tanggal 6 Juni 1997, dan sudah masuk di universitas ternama di Indonesia. Aku punya cowok yang biasa kupanggil baby, ia adalah pacarku. Namanya adalah Chip. Ia telah membuatku menunggu 6 tahun lamanyaa....

     "Aku suka sama kamu.." kataku blak-blakan di depan wajahnya. saat itu kami masih duduk di bangku SMP 2. Ditemani oleh seorang sahabatku, Dhea. aku akhirnya menyatakan perasaanku yang sudah lama terpendam.

     "Mmmm..." kata Chip, pipinya mulai memerah seperti apel. Aku gemas ingin mencubitnya.
     
     "Kamu enggak suka sama aku?" tanyaku tanpa tau malu.

     "Aku...suka denganmu dari dulu...tapi, aku punya prinsip akan pacaran saat bisa cari uang sendiri..." jawabnya.

     "Ohh...." jawabku agak kaget. Rasanya ingin sekali terbang. Ternyata dia juga suka padaku... dan prinsipnya itu menandakan dia cowok yang baik.

     "Apakah kamu mau menungguku?" tanyanya penuh harap.

     "Mmmmm..." sejenak aku berpikir. Dan Ia tiba-tiba berlutut dihadapanku sambil tersenyum manis sekali. Dan aku pun menjawab "1000 tahun pun kutunggu... tapi kamu harus janji yaaa..."

     "Janji." jawabnya sambil mengaitkan kelingkingnya ke kelingkingku.

6 tahun kemudian....
    
     "Kamu mau enggak jadi pacarku?" tanya Chip berlutut dihadapanku di depan teman-temanku dan temannya. Dia sengaja menyewa restoran dengan alasan ulang tahun mamanya. Dan ternyata, itu hanya alasan untuk membuatku datang dan menjadi pacarnya. 

     "Ya, aku mau!!!"  jawanku senang banget, Dhea, sahabatku yang berharga ternyata juga ikut dalam kerja sama ini. 

14 Februari 
itulah tanggal aku pacaran dengannya. Ia berjanji akan membahagiakanku dan berusaha untuk tidak membuatku menangis. Selama ini, teman-temanku berkata bahwa Chip hanyalah pembohong yang hanya akan memberikan janji palsu kepadaku. semua berkata begitu. kecuali Dhea. Dia mendorongku untuk menyatakan perasaanku. Dia yang mendorongku untuk menuntut janjinya. Dan Dhea memang benar... Dia telah menepati janjinya.